Melancong ke Bandung
Sudah sejak lama aku berencana pergi ke Bandung. Tujuannya untuk bertemu teman yang memiliki kegemaran yang sama, yaitu menulis. Sebut saja namanya Teguh, lengkapnya Teguh Puja Pramadya. Dia seorang penulis muda yang berbakat, yang sedang menunggu buku yang ditulisnya tiba dari penerbit.
Awalnya kami hanya saling menyapa lewat facebook. Aku mulai tertarik untuk mengenalnya saat membaca beberapa notesnya yang bagus. Kemudian ketika ku-add sebagai teman, dia meresponnya dengan baik. Aku merasa senang mendapat teman baru yang juga suka menulis.
Pertemanan berlanjut lewat percakapan maya atau chatting di facebook. Sampai akhirnya kami saling bertukar nomor handphone dan mulailah saling menyapa lewat udara. Banyak cerita yang sudah kami utarakan, banyak waktu yang sudah kami luangkan. Rasanya, akan terasa lebih lengkap kalau kami pun saling bertemu muka, bersua di dunia nyata.
Muncullah ide di kepalaku untuk pergi ke Bandung, ke tempat kediamannya. Aku yang memang sudah beberapa kali ke Kota Kembang tersebut merasa ada kehangatan yang akan menyambutku di sana. Seorang teman yang hanya tahu lewat dunia maya akan bertemu muka denganku. Wow, it sounds great!!!
Hari pertama puasa kantorku memberi kebijakan untuk meliburkan secara bergilir setiap karyawannya. Dan aku meminta libur di hari senin.
Teguh juga libur di hari senin, tadinya kupikir akan lebih baik kalau sepulang kuliah Minggu aku langsung bertolak ke Bandung agar bisa lebih lama bercengkrama bersamanya di sana. Akan ada banyak cerita yang bisa kudengar dari mulutnya, akan ada pengalaman seru bersamanya. Tapi rupanya hari Minggu Teguh tidak berada di Bandung. Ada urusan lain yang harus diselesaikannya dan baru kembali hari Senin pukul 10 atau 11 siang.
Akhirnya kuputuskan untuk berangkat ke Bandung selepas zhuhur saja. Biar Teguh juga bisa beristirahat sejenak sebelum akhirnya bertemu denganku. Maka untuk mengisi waktu luangku di hari Senin pagi, aku mencuci beberapa pakaian kotorku dan tidur sebentar. Baru selepas tengah hari aku datang ke kantor travel Cipaganti di Bekasi Cyber Park.
Perjalanan Bekasi - Bandung memakan waktu sekitar dua jam dengan Cipaganti. Kalau naik bus antar kota, kemungkinan baru sampai lebih dari empat jam. Wah, lama banget!
So sesuai prediksi aku sampai di Bandung sewaktu Ashar, Teguh sudah menungguku di Gramedia BIP. Dari Dipatiukur aku langsung naik angkot jurusan Dago. Kunikmati perjalanan singkat di dalam angkot sampai kemudian turun tepat di seberang gedung Gramedia.
Tidak lama aku masuk ke gedung Gramedia, menyapa petugas di penitipan barang yang mengizinkanku untuk tetap membawa tas punggungku yang besar, dan naik sampai ke lantai dua atau tiga (sayangnya aku lupa), kami pun bertemu.
Bersalaman. Itulah ritual lumrah yang biasa dilakukan saat bertemu orang. Kusapa dengan wajah sumringah, Teguh pun tersenyum cerah. Dan rasanya sudah menjadi hal yang otomatis saat kami saling berkata, “You’re different from your photos.” Kami tertawa mengomentari penampilan kami masing-masing.
Saat itu juga Teguh bertanya, “Ada rencana apa setelah buka puasa nanti?”
“I have no idea,” jawabku. Tak ada rencana. Sejak kemarin aku hanya berencana datang ke Bandung, bertemu dengan Teguh Puja dan biarkan semuanya terjadi saat kita bertemu.
Menurutnya akan terasa asik kalau kami mengisi waktu bersama nonton di Empire 21 BIP. Dia bertanya, “Do you like Harry Potter?”
Aku tersenyum dan berkata, “Aku belum pernah membaca bukunya, tapi aku menonton filmnya.”
So, deal. Kami pun menetapkan akan menonton film Harry Potter 7 chapter 2 yang memang baru release di Indonesia tanggal 30 Juli kemarin. Pasti seru, nonton bersama teman baru.
Setelah sesi “menyapa”, kami beranjak dari Gramedia dan menuju Empire 21 untuk melihat jadwal tayang Harry Potter. Rupanya hari itu di 21 BIP sedang ramainya pengunjung Harry Potter. Pihak bioskop pun memutar film tersebut di tiga studio dengan masing-masing studio memutar tiga pilihan waktu. Kami memilih waktu yang paling malam yaitu pukul 20.45 di studio 3. Kami memilih tempat duduk nomor 9 dan 10 baris B, kedua dari belakang.
Selesai dari 21 kami menunggu waktu berbuka dengan duduk di foodcourt untuk ngobrol. Dan kalau sudah urusan ngobrol, siapapun bisa lupa diri. Ada banyak pembicaraan yang terjadi. Cerita tentang dunia kepenulisan, sampai pada gosip-gosip hangat yang terjadi. Ya, tanpa kita sadari, waktu sudah menunjukkan lewat pukul lima sore dan kita harus mencari tempat yang tepat untuk berbuka puasa.
Agak sedikit bingung melihat banyak kedai makanan yang menawarkan menu menggiurkan. Sampai dua puluh menit kami kebingungan dalam memilih tempat makan yang tepat. Dan akhirnya kami memilih kedai Ngopi Doeloe, sebuah kafe bernuansa serba coklat yang temaram. Memberi kesan eksotis dan antik. Aku suka suasananya yang hangat, namun dinner tablenya terlalu tinggi untuk ukuranku.
Memesan makanan selalu membuatku tertarik. Kami memilih nasi dengan tumis daging sapi lada hitam. Ditemani softdrink teh dingin dalam kemasan botol. Aku juga memilih Caramel Macchiato panas dan Teguh memilih coklat hangat. Dan sebagai pelengkap, aku memesan salad buah yang segar dan semangkuk sup jagung yang manis.
Sambil makan kami berbincang lagi. Berceloteh tentang pengalaman menulis kami masing-masing. Saling menunjukkan hasil tulisan di iPad2 yang kubawa. Kami tertawa saat banyak cerita konyol yang diumbar. Rasanya, kami seperti sahabat yang bertemu kembali setelah gap waktu yang cukup lama.
Sekali lagi kami terhanyut oleh obrolan yang panjang. Rupanya jam tangan kami masing-masing sudah menunjukkan lebih dari pukul delapan malam. Kami pun beranjak dari tempat kami makan, membayar billing dan menuju bioskop di BIP.
Tak lama menunggu di lobby bioskop, kami pun diperkenankan memasuki studio 3 yang lokasinya paling dekat dengan lobby. Aku sedikit dikejutkan oleh suasana studio yang tidak begitu besar namun berkesan eksklusif. Tadinya aku membayangkan seperti XXI di Mega Mal Bekasi atau Metro Mal Bekasi, tapi rupanya 21 di BIP lebih mungil. Lebih jelas terlihat tentu saja. Dengan layar yang cukup besar untuk dilihat dari bangku deretan kedua paling belakang. Dan dentuman sound system yang bagus terasa begitu privasi dan elegan. Seperti sedang menonton di home theater bersama kolega dan sahabat. Pas. Nyaman.
Pilihan kami tidak salah untuk menonton Harry Potter. Cerita yang bagus dan special effect yang luar biasa membuat kami yang menonton tidak berceloteh sedikit pun. Saat scene-scene yang seru terjadi di dalam film, kurasakan aura ketegangan ikut merambat di ruang bioskop yang gelap, membuat semua penonton terdiam. Serius. Tak ada kata-kata. Semua fokus pada layar dan menikmati alur cerita yang dramatis.
Apa kesan saat menonton Harry Potter? Impressive, It’s so much worthy. Nggak sayang deh keluar uang untuk beli tiketnya. Apalagi nontonnya bareng Teguh Puja, menambah kelengkapan serunya menonton Harry Potter.
Pulangnya aku berencana bermalam di kamar kos Teguh. Sepanjang perjalanan kami membahas cerita film Harry Potter, tentang novelnya yang fenomenal dan tentang penulisnya luar biasa. Film Harry Potter 7 chapter 2 ini bukanlah film terbaik di sekuelnya, namun ini adalah film terakhir yang menutup dengan manis sepanjang deretan film Harry Potter. Mengesankan. Menarik. Dan luar biasa.
Tempat kos Teguh cukup jauh dari BIP. Berada di daerah Cibiru dan kami harus naik angkot sampai tiga kali ditambah perjalanan kaki sejauh kurang lebih lima ratus meter menanjak.
Cukup melelahkan sampai di tempat kos, namun kami bertekad untuk tidak tidur sampai waktu sahur tiba. Aku yang memang selalu membawa external hard drive memberinya beberapa film hasil download selama ini. Kami pun melihat-lihat beberapa video musik yang ada dan mengomentarinya. Hm, ada yang menyenangkan, ternyata Teguh Puja juga menyukai Boyce Avenue!! Gosh! Senang betul rasanya punya teman baru yang memiliki banyak kesamaan. Sama-sama suka menulis, dan sama-sama menyukai Boyce Avenue.
Pada saat sahur, rupanya sebagian rumah di dekat tempat kos Teguh listriknya padam. Alhasil, kami kesulitan mencari warung makan yang buka. Setelah sampai di jalan utama, ternyata penjual makanan yang kata Teguh biasanya ada malah tidak nongol satu pun. Hampir putus asa, kami kembali ke tempat kos dan ternyata masih ada yang menjual soto babat. Entah mengapa aku agak kurang bernafsu untuk makan nasi. Mungkin karena masuk angin, so I lost my appetite.
Setelah sahur aku diserang rasa kantuk yang luar biasa. Aku pun tertidur dan baru bangun pukul setengah enam pagi. Gosh! Kami bersiap diri karena selain aku harus kembali ke Bekasi segera, Teguh pun masuk kantor hari ini dan harus berangkat pukul enam.
Dengan segera aku mencuci muka, membenahi diri dan kami siap berangkat pagi ini. Sambil tertawa kami berjalan bersisian menyadari bahwa kami tidak mandi pagi ini. Perjumpaan kami usai sudah. Teguh pergi ke tempatnya bekerja sementara aku kembali ke Bekasi. Ada rasa kurang saat perpisahan terjadi, namun aku berkeyakinan kami akan berjumpa lagi sehingga perpisahan ini hanyalah hal biasa yang terjadi.
Aku naik angkot menuju Cicaheum dan berganti jurusan ke arah Dipati ukur untuk naik Travel Cipaganti menuju Bekasi.
It’s a special nite with Teguh Puja Pramadya. Senang menjadi temannya. Semoga kami bisa saling mempererat silaturahmi dan saling mendukung.




