Raka Tells Stories

Month

August 2011

2 posts

Menjadi Kuat

Pada saat azali dulu. Tuhan sudah menakdirkan kita bertemu. Kita berkumpul di dalam perahu yang sama, menuju pulau yang sama.

Visi kita bersetubuh, menyatu dalam mimpi besar kita. Dengan segenap kekuatan yang ada, kita siap mengarungi samudera sepanjang tahun ini.

Oke, kita bersama, berkumpul berserikat dalam sebuah lembaga. Ada struktur yang membentuk kita berjajar di posisi masing-masing. Aku berdiri disini, kalian duduk di sana. Aku datang dari sini, kalian menyongsong di sana. Bukan perbedaan yang ingin dipertegas, tapi sebuah loyalitas yang bersatu dalam pikiran yang menyatu.

Kita semua adalah pribadi-pribadi yang harus senantiasa belajar. Jangan pernah katakan kita tahu, karena dibalik itu ada benih kesombongan yang mengakar, ada benteng yang dibangun tanpa sadar. Sehingga kita pun menjadi katak yang menutup diri dalam tempurung, menjadi kura-kura yang berdiam diri dalam cangkang, menjadi pribadi usang yang merasa hebat sendiri.

Pengalaman bukan untuk diumbar, bukan untuk dielu-elukan, bukan untuk dipertontonkan, tapi untuk dipelajari, dievaluasi, dan dipahami. Kita semua memiliki pengalaman yang berbeda, dengan sudut pandang masalah yang juga berbeda, dan justru itulah yang melengkapi kebersamaan kita. Jangan katakan, “Saya paham kok.” karena di balik itu semua, kita melupakan esensi bagaimana memetik sebuah pelajaran berharga. Pelajaran yang bahkan sebenarnya tersembunyi di balik peristiwa remeh-temeh yang sering kita katakan “biasa”.

Kembali lagi pada kapal besar kita, yang dihuni oleh tujuh orang luar biasa, yang masing-masing memiliki potensi tak terbendung. Kita bertujuh saling mempelajari, saling memahami, saling mengerti. Dan ingat, untuk bisa dimengerti orang lain, kita perlu mengerti orang lain tersebut. Kita bertujuh sesungguhnya mampu menguras lautan dan menumbangkan gunung Semeru, kita mampu membekukan api dan membakar air. Tapi kita tidak akan pernah bisa menyatukan emosi kita bersama. Tujuh emosi sama saja malapetaka. Sama saja menanam bom atom di kapal kita.

Jadi ayo, kita dayung bersama, megarahkan kapal kita pada tujuan besar kita, pada mimpi yang tak lagi kita sembunyikan di balik bantal, pada mimpi yang tak lagi kekanak-kanakan. Kita bertujuh, bermimpi menjadi besar bersama. Untuk itu, mari kita membuka diri, jadilah pribadi yang selalu siap belajar, selalu siap menerima masukan.

Jangan tutup gelas kita, mari saling mengisi dengan jamu yang menyehatkan. Jangan pikirkan pahitnya, tapi rasakan manfaatnya. Mungkin tidak sekarang, bisa jadi besok atau lusa, bisa jadi tahun depan, tanpa sadar, kita telah menjadi sama-sama kuat.

Aug 6, 2011
Melancong ke Bandung

Sudah sejak lama aku berencana pergi ke Bandung. Tujuannya untuk bertemu teman yang memiliki kegemaran yang sama, yaitu menulis. Sebut saja namanya Teguh, lengkapnya Teguh Puja Pramadya. Dia seorang penulis muda yang berbakat, yang sedang menunggu buku yang ditulisnya tiba dari penerbit.

Awalnya kami hanya saling menyapa lewat facebook. Aku mulai tertarik untuk mengenalnya saat membaca beberapa notesnya yang bagus. Kemudian ketika ku-add sebagai teman, dia meresponnya dengan baik. Aku merasa senang mendapat teman baru yang juga suka menulis.

Pertemanan berlanjut lewat percakapan maya atau chatting di facebook. Sampai akhirnya kami saling bertukar nomor handphone dan mulailah saling menyapa lewat udara. Banyak cerita yang sudah kami utarakan, banyak waktu yang sudah kami luangkan. Rasanya, akan terasa lebih lengkap kalau kami pun saling bertemu muka, bersua di dunia nyata.

Muncullah ide di kepalaku untuk pergi ke Bandung, ke tempat kediamannya. Aku yang memang sudah beberapa kali ke Kota Kembang tersebut merasa ada kehangatan yang akan menyambutku di sana. Seorang teman yang hanya tahu lewat dunia maya akan bertemu muka denganku. Wow, it sounds great!!!

Hari pertama puasa kantorku memberi kebijakan untuk meliburkan secara bergilir setiap karyawannya. Dan aku meminta libur di hari senin.

Teguh juga libur di hari senin, tadinya kupikir akan lebih baik kalau sepulang kuliah Minggu aku langsung bertolak ke Bandung agar bisa lebih lama bercengkrama bersamanya di sana. Akan ada banyak cerita yang bisa kudengar dari mulutnya, akan ada pengalaman seru bersamanya. Tapi rupanya hari Minggu Teguh tidak berada di Bandung. Ada urusan lain yang harus diselesaikannya dan baru kembali hari Senin pukul 10 atau 11 siang.

Akhirnya kuputuskan untuk berangkat ke Bandung selepas zhuhur saja. Biar Teguh juga bisa beristirahat sejenak sebelum akhirnya bertemu denganku. Maka untuk mengisi waktu luangku di hari Senin pagi, aku mencuci beberapa pakaian kotorku dan tidur sebentar. Baru selepas tengah hari aku datang ke kantor travel Cipaganti di Bekasi Cyber Park.

Perjalanan Bekasi - Bandung memakan waktu sekitar dua jam dengan Cipaganti. Kalau naik bus antar kota, kemungkinan baru sampai lebih dari empat jam. Wah, lama banget!

So sesuai prediksi aku sampai di Bandung sewaktu Ashar, Teguh sudah menungguku di Gramedia BIP. Dari Dipatiukur aku langsung naik angkot jurusan Dago. Kunikmati perjalanan singkat di dalam angkot sampai kemudian turun tepat di seberang gedung Gramedia.

Tidak lama aku masuk ke gedung Gramedia, menyapa petugas di penitipan barang yang mengizinkanku untuk tetap membawa tas punggungku yang besar, dan naik sampai ke lantai dua atau tiga (sayangnya aku lupa), kami pun bertemu.

Bersalaman. Itulah ritual lumrah yang biasa dilakukan saat bertemu orang. Kusapa dengan wajah sumringah, Teguh pun tersenyum cerah. Dan rasanya sudah menjadi hal yang otomatis saat kami saling berkata, “You’re different from your photos.” Kami tertawa mengomentari penampilan kami masing-masing.

Saat itu juga Teguh bertanya, “Ada rencana apa setelah buka puasa nanti?”

“I have no idea,” jawabku.  Tak ada rencana.  Sejak kemarin aku hanya berencana datang ke Bandung, bertemu dengan Teguh Puja dan biarkan semuanya terjadi saat kita bertemu. 

Menurutnya akan terasa asik kalau kami mengisi waktu bersama nonton di Empire 21 BIP.  Dia bertanya, “Do you like Harry Potter?” 

Aku tersenyum dan berkata, “Aku belum pernah membaca bukunya, tapi aku menonton filmnya.”

So, deal. Kami pun menetapkan akan menonton film Harry Potter 7 chapter 2 yang memang baru release di Indonesia tanggal 30 Juli kemarin.  Pasti seru, nonton bersama teman baru.

Setelah sesi “menyapa”, kami beranjak dari Gramedia dan menuju Empire 21 untuk melihat jadwal tayang Harry Potter.  Rupanya hari itu di 21 BIP sedang ramainya pengunjung Harry Potter.  Pihak bioskop pun memutar film tersebut di tiga studio dengan masing-masing studio memutar tiga pilihan waktu.  Kami memilih waktu yang paling malam yaitu pukul 20.45 di studio 3.  Kami memilih tempat duduk nomor 9 dan 10 baris B, kedua dari belakang.

Selesai dari 21 kami menunggu waktu berbuka dengan duduk di foodcourt untuk ngobrol. Dan kalau sudah urusan ngobrol, siapapun bisa lupa diri. Ada banyak pembicaraan yang terjadi. Cerita tentang dunia kepenulisan, sampai pada gosip-gosip hangat yang terjadi. Ya, tanpa kita sadari, waktu sudah menunjukkan lewat pukul lima sore dan kita harus mencari tempat yang tepat untuk berbuka puasa.

Agak sedikit bingung melihat banyak kedai makanan yang menawarkan menu menggiurkan. Sampai dua puluh menit kami kebingungan dalam memilih tempat makan yang tepat. Dan akhirnya kami memilih kedai Ngopi Doeloe, sebuah kafe bernuansa serba coklat yang temaram.  Memberi kesan eksotis dan antik.  Aku suka suasananya yang hangat, namun dinner tablenya terlalu tinggi untuk ukuranku.

Memesan makanan selalu membuatku tertarik. Kami memilih nasi dengan tumis daging sapi lada hitam. Ditemani softdrink teh dingin dalam kemasan botol. Aku juga memilih Caramel Macchiato panas dan Teguh memilih coklat hangat. Dan sebagai pelengkap, aku memesan salad buah yang segar dan semangkuk sup jagung yang manis.

Sambil makan kami berbincang lagi.  Berceloteh tentang pengalaman menulis kami masing-masing.  Saling menunjukkan hasil tulisan di iPad2 yang kubawa.  Kami tertawa saat banyak cerita konyol yang diumbar.  Rasanya, kami seperti sahabat yang bertemu kembali setelah gap waktu yang cukup lama.

Sekali lagi kami terhanyut oleh obrolan yang panjang.  Rupanya jam tangan kami masing-masing sudah menunjukkan lebih dari pukul delapan malam.  Kami pun beranjak dari tempat kami makan, membayar billing dan menuju bioskop di BIP.

Tak lama menunggu di lobby bioskop, kami pun diperkenankan memasuki studio 3 yang lokasinya paling dekat dengan lobby.  Aku sedikit dikejutkan oleh suasana studio yang tidak begitu besar namun berkesan eksklusif.  Tadinya aku membayangkan seperti XXI di Mega Mal Bekasi atau Metro Mal Bekasi, tapi rupanya 21 di BIP lebih mungil.  Lebih jelas terlihat tentu saja.  Dengan layar yang cukup besar untuk dilihat dari bangku deretan kedua paling belakang.  Dan dentuman sound system yang bagus terasa begitu privasi dan elegan.  Seperti sedang menonton di home theater bersama kolega dan sahabat.  Pas.  Nyaman.

Pilihan kami tidak salah untuk menonton Harry Potter.  Cerita yang bagus dan special effect yang luar biasa membuat kami yang menonton tidak berceloteh sedikit pun.  Saat scene-scene yang seru terjadi di dalam film, kurasakan aura ketegangan ikut merambat di ruang bioskop yang gelap, membuat semua penonton terdiam.  Serius. Tak ada kata-kata.  Semua fokus pada layar dan menikmati alur cerita yang dramatis.

Apa kesan saat menonton Harry Potter? Impressive, It’s so much worthy.  Nggak sayang deh keluar uang untuk beli tiketnya.  Apalagi nontonnya bareng Teguh Puja, menambah kelengkapan serunya menonton Harry Potter.

Pulangnya aku berencana bermalam di kamar kos Teguh.  Sepanjang perjalanan kami membahas cerita film Harry Potter, tentang novelnya yang fenomenal dan tentang penulisnya luar biasa.  Film Harry Potter 7 chapter 2 ini bukanlah film terbaik di sekuelnya, namun ini adalah film terakhir yang menutup dengan manis sepanjang deretan film Harry Potter.  Mengesankan.  Menarik.  Dan luar biasa.

Tempat kos Teguh cukup jauh dari BIP. Berada di daerah Cibiru dan kami harus naik angkot sampai tiga kali ditambah perjalanan kaki sejauh kurang lebih lima ratus meter menanjak. 

Cukup melelahkan sampai di tempat kos, namun kami bertekad untuk tidak tidur sampai waktu sahur tiba.  Aku yang memang selalu membawa external hard drive memberinya beberapa film hasil download selama ini.  Kami pun melihat-lihat beberapa video musik yang ada dan mengomentarinya.  Hm, ada yang menyenangkan, ternyata Teguh Puja juga menyukai Boyce Avenue!! Gosh! Senang betul rasanya punya teman baru yang memiliki banyak kesamaan.  Sama-sama suka menulis, dan sama-sama menyukai Boyce Avenue.

Pada saat sahur, rupanya sebagian rumah di dekat tempat kos Teguh listriknya padam.  Alhasil, kami kesulitan mencari warung makan yang buka.  Setelah sampai di jalan utama, ternyata penjual makanan yang kata Teguh biasanya ada malah tidak nongol satu pun.  Hampir putus asa, kami kembali ke tempat kos dan ternyata masih ada yang menjual soto babat.  Entah mengapa aku agak kurang bernafsu untuk makan nasi.  Mungkin karena masuk angin, so I lost my appetite.

Setelah sahur aku diserang rasa kantuk yang luar biasa.  Aku pun tertidur dan baru bangun pukul setengah enam pagi.  Gosh! Kami bersiap diri karena selain aku harus kembali ke Bekasi segera, Teguh pun masuk kantor hari ini dan harus  berangkat pukul enam.

Dengan segera aku mencuci muka, membenahi diri dan kami siap berangkat pagi ini.  Sambil tertawa kami berjalan bersisian menyadari bahwa kami tidak mandi pagi ini.  Perjumpaan kami usai sudah.  Teguh pergi ke tempatnya bekerja sementara aku kembali ke Bekasi.  Ada rasa kurang saat perpisahan terjadi, namun aku berkeyakinan kami akan berjumpa lagi sehingga perpisahan ini hanyalah hal biasa yang terjadi.

Aku naik angkot menuju Cicaheum dan berganti jurusan ke arah Dipati ukur untuk naik Travel Cipaganti menuju Bekasi.

It’s a special nite with Teguh Puja Pramadya.  Senang menjadi temannya.  Semoga kami bisa saling mempererat silaturahmi dan saling mendukung.

image

image

image

image

image

Aug 2, 2011

July 2011

18 posts

The New Toy (Tool)

Hari Sabtu yang lalu, tanggal 23 Juli 2011, aku bertatap muka dengan Mas Nico. Dia adalah teman baruku yang berkenalan lewat Kaskus.us. Dia menjual iPad2 baru miliknya yang dibeli di Singapura.

Memang sudah lama aku mengidam-idamkan iPad, komputer tablet buatan Apple,inc. Hampir setiap hari aku membuka kanal kaskus.us di forum jual beli untuk sekadar melihat perbandingan harga yang ada. Banyak pertimbangan-pertimbangan yang aku pikirkan dan salah satunya berkenaan dengan biaya yang tidak murah. Oleh karena itu awalnya aku berpikir untuk membeli iPad generasi pertama dengan kapasitas memori yang tidak terlalu besar.

Memangnya kenapa sih harus iPad?

Pertama, iPad sudah mengusung teknologi layar sentuh yang mumpuni. Aku sudah menggunakan iPod Touch generasi ketiga dan pernah memakai iPhone milik teman. Dari teknologi layar sentuh, Apple memang membuatnya dengan cukup serius. Tidak main-main, ketika kubandingkan dengan produk layar sentuh milik prabrik lain, iPod Touch dan iPhone-lah yang terbaik. Aku pernah menggunakan smartphone layar sentuh dari Sony Ericsson, Samsung dan Blackberry. Semuanya menyuguhkan fitur yang berbeda, namun Apple rupanya unggul di banyak sisi.

Nah, karena aku sudah kadung jatuh hati pada Apple. Maka tanpa ada kebimbangan sedikit pun saat berniat membeli mainan baruku.

Sebenarnya. Kalau dibilang mainan ya nggak juga sih Karena niatku membeli iPad adalah agar aku bisa menulis secara mobile di mana saja tanpa perlu kerepotan membawa laptop yang berat dan charger yang semrawut. iPad sangatlah kompak, dengan tebal yang sangat tipis dan daya tahan batere yang mencapai sepuluh jam dengan layar menyala membuatku makin sumringah membayangkan kemana-mana menenteng iPad.

Kembali kepada Mas Nico. Rupanya dia baru saja kembali dari Singapura dan menjual iPad2 yang dibeli di sana. Dia sendiri sudah memiliki iPad1 sehingga tidak terlalu membutuhkan iPad baru. Nah, niat awalku membeli iPad generasi pertama dengan kapasitas memori yang tidak terlalu besar karena berkaitan dengan budget yang harus dikeluarkan. Tapi akhirnya kupikir, kalau aku membeli iPad2 dengan kapasitas yang paling besar maka masa pakainya pun lebih lama. Menurut Mas Nico, iPad dua memiliki teknologi di atas iPad1. Prosesor yang lebih cepat, grafis yang lebih aduhai, dan ketebalan yang lebih tipis membuat iPad2 jauh lebih baik dari iPad1. Akhirnya aku pun memutuskan untuk membeli iPad2 warna hitam berkapasitas 64Gb.

Mas Nico adalah orang yang ramah. Meskipun kami baru sekali bertemu di gedung JobDB tempat dia bekerja, tapi seakan-akan kami adalah teman lama yang berjumpa lagi setelah sekian lama tidak bersua. Dia memberi banyak informasi tentang penggunaan iPad, mulai dari cara mengaktifkan banyak fiturnya, sampai pada perawatan. Aku senang bisa mengenal Mas Nico.

Akhirnya kubawa pulang iPad2 hitam baruku setelah merogoh kocek lebih dari delapan juta. Wow, bukan jumlah sembarangan untuk sebuah gadget. Makanya aku ingin memanfaatkannya sebaik mungkin. Aku pun membeli banyak tambahan aksesoris untuk melengkapi keberadaan iPad2-ku. Aku membeli Smart Cover, keyboard wireless, mobile charger, dock, camera kit, dan vga output.

Untuk kelengkapan aksesoris aku membeli di tokonya Mas Nana di daerah Tomang, Jakarta. Hm, dia seller yang baik juga. Dia punya ID di kaskus.us juga. Hm, banyak ketemu dengan orang-orang baik di kaskus.us.

Nah, sejak dibelinya iPad2, aku berusaha membiasakan diri menggunakan iPad2 ku untuk melakukan banyak kegiatan. Dan tentu saja kegiatan yang paling kugilai adalah menulis. Awalnya sih agak kaku untuk mengetik di tuts yang muncul di layar iPad. Karena layar sentuh tentu saja tidak berasa seperti menekan tuts papan kibor fisik pada PC. Tapi lambat laun aku Pun mulai terbiasa menggunakannya. Dan postingan kali ini kubuat dari Tumblita, yaitu aplikasi khusus untuk blog Tumblr. Duh, makin cinta saja dengan iPad2ku ini.

Jul 31, 2011
Menggigit Apel

Terkadang membayangkan sebuah perjalanan panjang yang sulit dan berliku membuat kita enggan dan ragu. Kebimbangan meracuni tujuan yang ingin kita raih. Bisa jadi kita gagal dalam melangkah karena ketakutan dan kecemasan terhadap hal-hal yang sebenarnya belum kita lalui, belum kita alami. Rupanya, kedahsyatan daya imajinasi manusia juga mampu mengontrol pola pikir kita menjadi negatif dan uncreative thinking.

Sabtu malam tanggal 2 Juli 2011. Sebuah rencana panjang sudah kususun. Sabtu malam aku akan ke Gama Harapan Jaya untuk mengambil seragam yang dibutuhkan saat raker, setelah itu ke kosan di dekat Metropolitan Mal untuk packing pakaian dan kebutuhan lainnya. Minggu pagi, sekitar pukul delapan aku berencana hadir di akad nikah teman satu kantor di daerah Villa Nusa Indah, Jatiasih. Langsung dari tempat temanku menikah tersebut, aku bertolak ke Depok untuk mengikuti launching party buku Mas Iwan Setyawan yang berjudul 9 Summers, 10 Autumns pada pukul dua siang. Kemudian aku akan kembali lagi ke Jatiasih Bekasi setelah acara launching buku tersebut selesai. Kenapa aku berencana ke Depok sebelum tengah hari agar aku bisa membaca dulu buku Mas Iwan tersebut.

Rupanya aku harus banyak belajar untuk berkomitmen.

Sabtu malam aku tertidur pukul sepuluh dan terjaga pukul 12 sampai pagi. Online dan chatting sampai pukul empat dan melupakan rencana untuk ke Harapan Jaya mengambil seragam. Aku tidur lagi pukul setengah lima dengan MacBook tetap menyala. Maklumlah, aku agak gila online beberapa hari terakhir.

Akhirnya aku malah terbangun pukul delapan, ke Harapan Jaya untuk mengambil seragam pukul sepuluh dan packing baru selesai pukul dua belas. Aku tancap gas langsung menuju rumah Mba Gress (teman kantorku yang menikah) dan baru selesai pukul satu siang lewat lima belas menit. Oh, Gosh!!

Saat itu juga aku diserang oleh kebimbangan luar biasa. Kebimbangan yang aku ciptakan sendiri karena mangkir dari rencana awal. Aku bimbang apakah perlu aku Depok untuk bertemu Mas Iwan. Acara yang dimulai pukul dua tentu saja tidak bisa kuhadiri tepat pada waktunya. Perjalanan bisa memakan waktu satu jam dan itu artinya aku baru bisa sampai Depok pukul setengah tiga. Ya Tuhan, aku paling tidak suka datang ke sebuah acara dengan terlambat. Lebih baik aku menunggu lima belas menit sebelum acara dimulai.

Aku menggigit bibir cemas. Kebodohanku mangkir dari rencana yang sudah kususun menciptakan penyesalan bertubi-tubi. Memukul kepalaku hingga terasa blank seketika dan sekejap. Aku seperti sebuah titik dalam serangan noise yang memuncrat. Aku kalah oleh diriku sendiri. Aku belum bisa berkomitmen dengan hatiku sendiri.

Aaarrrgh.Acara launching book party adalah acara kegemaranku. Aku sangat mengharapkan bertemu dengan Mas Iwan. Meski aku belum mengenalnya aku merasakan tarikan yang kuat untuk bertemu dengannya. Seperti ada kekuatan magis yang membetotku ke dalam nuansa keindahan menulis. Meski aku belum membaca bukunya namun aku yakin ada hal yang luar biasa di dalamnya. Karena setiap pribadi adalah unik, everyone is amazing. Dan aku yakin Mas Iwan memiliki keluarbiasaannya sendiri.

Setelah berperang melawan keraguan dan kebimbangan akhirnya kuputuskan juga untuk pergi ke Depok setelah jam menunjukkan pukul setengah dua lewat. What have I done? Terlalu lama berpikir tanpa bertindak. Hayo! Bergerak sekarang!

Maka dengan segera kupacu kuda besi empat tak yang lampu depannya sedikit bermasalah. Kulewati jalanan berkelok-kelok menghindari kemacetan di daerah Pondok Gede. Aku mengambil rute dalam, melewati wilayah Jatisari dan menembus pinggir jalan tol JOR. Setengah jam sudah kulalui dan aku sudah sampai di keramaian Kampung Rambutan. Sialnya aku terkantuk-kantuk sehingga konsentrasiku hilang sebagian. Beberapa kali aku hampir bersinggungan dengan motor atau mobil lain. Kantuk ini pasti karena akau terlalu sedikit memejamkan mata, terlalu sedikit mengistirahatkan otak tuaku.

Sampai di Depok dengan selamat langsung kuteguk segelas teh hangat yang disuguhi oleh Mama. Beliau tampak cemas melihatku terburu-buru untuk segera ke TMBookStore di Depok Town Square. Tak kugubris kecemasannya aku hanya mencium tangan tuanya dan pamit. Aku diantar oleh kakak perempuanku satu-satunya sampai mulut gang karena aku berencana untuk naik angkot saja. Di dalam angkot yang penuh aku mengatur nafas agar tidak balapan dengan deru mesin angkot yang memburu membabi buta.

Aku turun di depan MagoCity dan menyebrang menuju Depok TownSquare. Langsung kuserbu crowded-nya orang-orang yang lalu lalang dan masuk ke dalam TMBookStore.

Acara tentu saja sudah dimulai. Aku berdiri di pinggir rak sebelah kiri stage dan memperhatikan Mas Iwan yang tengah berceloteh tentang masa kecilnya.

Beruntung. Itulah yang bisa kukatakan dalam hati. Alhamdulillah, puji Tuhan. Aku bisa mendengar cerita yang begitu dahsyat dari Mas Iwan.

Aku yang baru membaca dua bab pertama bukunya mendapat gambaran jelas dan luar biasa apa yang ingin disampaikan Mas Iwan lewat bukunya. Cerita seorang bocah kecil dari Malang yang berhasil meraih impiannya di New York. Itulah potret pengalaman Mas Iwan. Kepahitan masa lalu tidak membuatnya lupa pada jatidirinya.

Hal yang paling menginspirasi adalah karena cerita itu, ya, cerita yang dibawakan Mas Iwan lebih kurang sama dengan yang aku alami. Memang aku tidak sampai ke New York untuk mencari keberhasilan. Memang aku tidak sampai mendapat predikat lulusan terbaik di kampus. Memang aku tidak segiat dan seteguh Mas Iwan dalam memancangkan tekad. Tapi dengan bertemu Mas Iwan membuatku bersyukur pada Tuhan bahwa ternyata aku telah mendapat karunia yang begitu luar biasa atas hidupku. Tak peduli seberapa pahit apel masa laluku, dan tak peduli pula seberapa manis apel impianku. Cerita Mas Iwan menggugahku untuk terus berkarya. Move on! hidup cuma sebentar, aku harus berusaha semaksimal mungkin membangun perahu layar yang kokoh yang tidak akan tumbang diterpa badai.

Mungkin aku perlu berdamai dengan masa lalu yang tidak begitu indah. Mungkin aku perlu bersinergi dengan pengalaman pahit masa lalu hidupku. Seperti yang Mas Iwan katakan, terkadang kita perlu rehat sejenak. Mengosongkan pikiran untuk membangun benteng pertahanan, meluruskan langkah, menguatkan visi dan mengatur strategi.

Aku beruntung memiliki Tuhan.

Dan keberuntunganku yang lain adalah Tuhan mempertemukan aku dengan orang yang luarbiasa inspiring. Mas Iwan is really amazing, his effort to get his success inspiring me in many ways. And Im sure that Mas Iwan is a wise person who can give me some suggestions to keep my spirit and do my best.

Mas Iwan, its really nice story to know you. I cant stand to hold my compassion. Yes, I was crying on my way back.

Jul 31, 20111 note
#iwan setyawan #apel #semangat #9 Summers 10 Autumns
Next page →
2012 2013
  • January 1
  • February 19
  • March 10
  • April 1
  • May 8
  • June 1
  • July
  • August
  • September
  • October
  • November
  • December
2011 2012 2013
  • January 6
  • February 1
  • March 4
  • April 89
  • May 16
  • June 19
  • July 2
  • August 2
  • September 3
  • October 1
  • November 2
  • December 3
2011 2012
  • January
  • February
  • March
  • April
  • May
  • June
  • July 18
  • August 2
  • September
  • October
  • November
  • December 11