
My image…
My figure…
My stone heart…
My ego…
All of my evil things are made by one condition…
Why DID Mom meet Dad?
That was a very BIG MISTAKE, because Dad’s a very good sins-maker and evil-stockist.

My image…
My figure…
My stone heart…
My ego…
All of my evil things are made by one condition…
Why DID Mom meet Dad?
That was a very BIG MISTAKE, because Dad’s a very good sins-maker and evil-stockist.

“Kakak tahu bagaimana berkecamuknya perasaanmu sehingga kamu hengkang dari rumah,” ujar Kanaya padaku. “Tapi Kakak nggak mau meninggalkan Mama sendiri, cukup sekali Kakak melakukan kesalahan besar. Dulu, waktu Kakak pergi dari rumah dan berdampak sangat buruk pada Mama, sejak saat itulah penyesalan berakar di hati Kakak.”
Aku terdiam. Kugenggam tangannya yang gemetar, kuberi kekuatan padanya yang terlihat rapuh.
“Kakak merasa menyesal karena dilahirkan dari keluarga ini.”
Aku tercekat, seperti disambar geledek. Namun di dalam diriku, separuh jiwaku menyetujui pernyataannya.
Kembali ke rumah rupanya sama dengan menguak luka lama. Jadi kepergianku selama ini dengan dalih bekerja hanyalah sebuah tipuan terhadap nasib yang kuhadapi, hanyalah bualan terhadap ironi yang sesungguhnya terjadi.
Kutelan rasa pahit di kerongkonganku, saat cerita getir mengalir dengan deras dari bibir Kanaya. Pikiranku buntu seketika. Aku kebingungan sendiri, antara mempercayai segala cerita Kanaya atau bertahan pada mimpi tentang perubahan yang terjadi pada Papa. Kuputuskan tidak meyakini keduanya. Naif memang, aku muak dengan diriku sendiri. Aku selalu mencari tempat aman yang bernama pelarian. Begitu luka lama ini terkuak, saat itulah aku seperti disedot ke mesin waktu yang memeras memori dan perasaanku. Aku ditarik kembali kepada peradaban hina yang menyiksa sepanjang sejarah hidupku. Aku dipaksa menerima pukulan pahit sebagai bentuk kenyataan yang ada.
“Kamu tahu? Kakak merasa tidak dianggap sebagai manusia. Kakak malu pada suami, semua yang sudah dia berikan untuk keluarga kita ternyata hanya dibalas oleh perlakuan yang tidak manusiawi oleh Papa. Dan Kakak tetap bungkam karena Kakak masih memiliki Mama. Satu-satunya harapan Kakak untuk masuk surga.”
Aku masih mendengarkan dengan seksama.
“Dan kalau karena Papa Kakak bisa jadi anak paling durhaka sedunia, Kakak rela. Bahkan Kakak yakin Tuhan pun sudah tidak menganggap Kakak sebagai orang yang baik.”
Kanaya menarik nafas sesaat, “Saat ini, yang Kakak pikirkan adalah bagaimana nasib anak-anak Kakak di masa depan. Perkara mulut comberan Papa yang selalu menghina Kakak dan suami, sudah tidak kupikirkan lagi. Terserah kamu mau menganggap Kakak seperti apa. Yang pasti, Kakak hanya bisa mengabdi pada suami, ya, tidak perduli lagi pada Papa.”
Sepanjang cerita Kanaya tentang getirnya gesekan antara pola pikir Papa yang tidak masuk akal dengan keinginannya beserta suami untuk berkembang mandiri, kurasakan sabetan berkali-kali dalam hatiku. Bahwa rupanya telah sekian lama aku melupakan Tuhan, telah begitu banyak karunia yang tidak kusyukuri.
Kumohon pada Tuhan, berikan aku kekuatan untuk memberikan yang terbaik pada Mama. Berikan aku kemampuan untuk melindungi sisa keluargaku yang tak kunjung rapat setelah sekian lama diretakkan oleh Papa. Berikan aku kesempatan untuk bisa membuktikan pada Kanaya bahwa pengorbanannya selama ini tidak sia-sia. Dia telah berhasil memberikan suatu bentuk cinta yang tidak pernah kusadari sebelumnya.

I wrote it this morning, after praying. This was fictive and no need to be concerned. I wrote it in Bahasa.

Rupanya ada yang menggebrak batinku, meluluhlantakkan logikaku. Semua yang kupikir secara rasional buram sudah, dia bersemayam di balik itu semua. Dia menjadi pelaku utama penghancuran egoku selama ini. Dia menjadikanku lunak, selunak bubur kentang kemarin sore, yang kusantap sambil tersenyum sendiri membaca banyak pesan singkat di smartphoneku.
Kalau ditanya seperti apa rasanya mencintai, maka akan kujawab dengan banyak versi. Mencintai bisa terasa indah seindah kemanjaannya bergelayut di lenganku, seindah senyumnya menutup kemarahanku, seindah kesabarannya menenangkan gejolakku. Mencintai bisa juga terasa pilu, sepilu hidup sendiri saat tak kunjung disapa olehnya, sepilu ditinggal mati saat marahnya tak kunjung reda, sepilu disayat sembilu saat membayangkan kehadiran pria lain merenggut dirinya. Mencintai juga terasa manis, semanis coklat panas yang diminum berdua, semanis brownies yang dibuat bersama, semanis kecupan mesra di pipiku yang merona, semanis lirikan matanya yang menggoda. Dan mencintai juga bisa terasa pahit, sepahit menelan air saga saat mengetahui diriku masih saja belum bisa menerima apa adanya, sepahit kopi luwak saat dirinya menentang pendapatku, sepahit harapanku akan masa depan yang berubah drastis karena ulahnya, sepahit kesadaranku bahwa selama ini dia sangat mencintaiku apa adanya.
Entah bagaimana jadinya ini, semakin kugenggam cintanya, semakin dalam perasaanku padanya. Semakin kubandingkan dengan cintaku, semakin kusadari bahwa cintanya tak bertepi, semakin kusadari cintanya sungguh luas, sungguh halus, sungguh bagus, sungguh sempurna.
Proses satu tahun ini sungguh luar biasa. Penuh pembelajaran di dua belah pihak. Rupanya Tuhan mendidikku dengan cara yang canggih, menenggelamkanku dalam kubangan cinta dan membuka pikiran kerdilku selama ini. Tuhan membiarkanku terkoneksi dalam banyak jaringan emosi, dalam banyak impuls memori, yang menyedotku ke dalam sebuah dimensi pikiran yang tak lagi kosong - yang justru penuh dengan lautan bilangan biner yang menjadi kode-kode pengalaman hidup. Tuhan sungguh luar biasa. He’s really amazing.
Kali ini, di tengah gigitan roti yang kumakan, aku menyadari, aku makin mencintainya. Rasa asin keju di dalam roti dan manisnya cinta kami berpadu membentuk rasa yang tak biasa. Aku tersenyum sendiri.
Entah tanggal berapa aku dan dia mengikat janji, entah hari apa awalnya kami sama-sama bermimpi mengarungi hidup berdua sehidup semati.
Tapi di tanggal sebelas ini aku sebagian hati menggenapkan diri menjadi cinta yang utuh. Mencintainya memiliki banyak rasa, aku ingin merasakannya semua sampai Tuhan yang memberi batasnya.

Terima kasih Tuhan. Hadirnya dalam hidupku adalah sebuah anugerah yang tak kunjung selesai kusyukuri. Semakin aku mencintainya, semakin aku menyadari betapa besar peranmu dalam hidupku, Tuhan. Berikan yang terbaik untuk kami, berikan kami kemampuan untuk terus belajar menjadi pribadi yang saling mengerti, saling menghargai, saling mendukung, saling menyayangi. Hanya Engkaulah Tuhan yang sanggup megubah apa yang bersemayam dalam dada kami. Hanya Engkaulah Tuhan yang sanggup mengisi kekosongan hati kami. Cinta kami adalah milik-Mu, biarkan kami memeliharanya sampai waktunya kami berikan semua untuk-Mu.

Bekasi, 11 Januari 2012
Mari menggenapkan setengah cinta kita.


Khawatir. Itu yang kurasakan sekarang.
Dua kejadian membuatku berpikir ulang tentang perbuatanku selama ini.
Pagi tadi entah mengapa aku memang sudah berfirasat buruk. Pukul setengah delapan, pakaianku di laudry belum siap. Sudah dicuci namun belum disetrika.
Terdesak, karena aku berjanji pukul delapan sudah berada di kantor, so aku putuskan untuk mengambil sebuah baju saja yaitu seragam hari Rabu (warna Orange) dan segera bergegas ke kantor.
Di perjalanan yang santai (aku menggunakan speed rata-rata 30 km/jam) karena masih di lokasi perumahan, seekor serangga masuk ke dalam helmku dan membuat konsentrasiku pecah seketika. Aku terkejut dan melepas stir motorku ke kanan. Ambruk.
Tidak ada yang bisa kulakukan meski lututku lecet dan memar. Beruntung tidak ada sobekan di celana, karena ini celana satu-satunya yang bersih (yang lain belum kuambil di laundry). Aku segera berdiri dengan lutut gemetar, kuangkat body motor yang terasa berkali-kali lebih berat dari biasanya. Sambil menarik nafas panjang, kupacu motorku perlahan, ya, tetap perlahan. Dan kuhindari mengumpat hariku yang malang.
Alhamdulillah, thanks God, pekerjaan selama di kantor (marketing bersama Mas Sentot) tidak ada yang terganggu. Berangkat pukul delapan lima belas menit (Ya! Aku terlambat!) ke sekolah-sekolah yang menjadi target pasarku. Kami kembali ke kantor pukul sepuluh kurang dan rasanya perutku sudah keroncongan, baru kuingat kalau tadi pagi aku tidak sempat sarapan.
Karena aku berjanji menemani Mas Syamsul dan Mas Rasyid melakukan survey terhadap mesin scanner yang akan kami beli, maka setelah melepas lelah beberapa saat dengan melahap nasi kucing pagi hari dan segelas teh yang sudah tak hangat lagi, aku pun beranjak pergi ke Jatisari. Di sana rupanya Mas Syamsul dan Mas Rasyid sudah menungguku.
Tidak berapa lama kami pun pergi ke Cibubur dengan mengendarai motor. Aku dibonceng oleh Mas Rasyid dan Mas Syamsul mengendarai motornya sendiri. Perjalanan panjang terasa seru karena jalur yang kami lalui terasa asing dan baru bagiku. Seakan melakukan ekspedisi eksplorasi ke daerah baru.
Sampai di Cibubur kami disambut hangat oleh Mas Yudi dan Mas Eko. Kami pun berbincang sebentar kemudian Mas Yudi dan Mas Eko melakukan Demo product tentang scanner yang hendak kami beli. Setelah selesai kami pun kembali ke Jatisari.
Karena Mas Syamsul ada jadwal mengajar pukul tiga dan Mas Rasyid ada jadwal mengajar pukul empat, maka kami berpisah di Jatisari. Mas Rasyid langsung bertolak ke Harapan Baru sementara Mas Syamsul langsung ke Jatiasih. Aku kembali ke kantor jatiasih menyusul Mas Syamsul dengan santai.
Aku tahu sejak pagi tadi, sejak jatuhnya aku karena seekor serangga, sudah kurasakan bahwa motorku tidaklah dalam kondisi baik. Bukan karena bannya kempes atau ada bagian mesin yang terganggu, namun memang kondisi motorku terasa mengkhawatirkan dan memberikan aura tidak nyaman saat kugunakan.
Benar saja, di tengah perjalanan pulang, dalam kecepatan empat puluh kilometer per jam di jalan aspal yang mulus, tiba-tiba seekor ayam melesat sambil berkokok dari balik mobil pick up berlari ke tengah jalan. Seekor ayam yang membuatku serta merta terkejut dan lepas kendali. Aku menggenggap handle rem dan menginjak pedal rem belakang. Namun rupanya tak begitu berhasil, motor pun oleng dan hampir jatuh.
Ya, hampir jatuh. Motor oleng seketika dan entah pikiran dari mana yang membuatku meluruskan kaki dan menginjak jalan dengan maksud mengerem. Tubuhku terasa terdorong, hampir terpental, tapi stang masih kupegang. Hanya saja, tulang panggulku terasa bagai dibetot dan kondisiku langsung lemas seketika. Tapi entah kegilaan apa yang membuatku tetap berjalan meski sangat perlahan.
Aku menelan ludahku yang pahit. Dua kali, ya dua kali sudah Tuhan menyapaku lewat hewan ciptaannya.
Bukan kepalang aku khawatir, mungkinkah ada kaitannya dengan perbuatanku selama ini? Mungkinkah ini adalah karma buruk yang selama ini aku tanam? Tidak aku tidak mau percaya, tapi aku memang tidak pernah meyakini ada satu hari sial dalam hidup setiap orang. Karena menurutku setiap hari memiliki keberkahannya masing-masing. Mungkin Tuhan telah lama rindu padaku, dan dia menyapaku hari ini. Aku berterima kasih pada Tuhan.
Alhamdulillah, Kau masih memberikan kesehatan padaku ya Allah ya Tuhan….