Aku ingat betul, aku baru menyadari bahwa aku mencintai adikku dengan sangat justru di saat yang tidak tepat. Sudah terlambat.
Aku berusaha meyakini diriku bahwa kematian adalah hal biasa. Aku sudah melihat wajah kematian berkali-kali, dan saat kelamnya kematian datang menghampiri adikku, aku berusaha mengatakan pada diriku sendiri, “This is just life cycle. Everyone will be die. Today is my sister’s turn, and maybe next will be mine.”
Nyatanya, saat tarikan nafas terakhir adikku menyapu persis di pipiku, saat tubuhnya menegang persis di pangkuanku, saat erangan terakhirnya persis menyusup ke telingaku, saat itu juga aku mencengkeram bahunya. Aku gemetar. Aku kehilangan kesempatan terakhir untuk mengatakan padanya bahwa aku mencintainya dan menyayanginya. Aku masih sangat muda saat itu, masih sangat naif untuk bertutur cinta meski pada adikku sendiri.
Tapi aku tidak menangis. Ya, aku cukup kuat untuk mengumandangkan adzan di telinga adikku. Aku cukup kuat untuk mengusap wajahnya dengan tangan kecilku. Aku cukup kuat untuk merekam sekali lagi wajah pucat yang pernah singgah bertahun-tahun dalam hatiku. Adikku yang lebih kucintai dari siapapun rupanya sudah kembali kepada Tuhan. ”She looked beautiful with her pale face.”

