May 2012
16 posts

Bangun tidur pagi ini kepalaku rasanya berat dan tidak enak. Seperti ada benjol sebesar tinju di tengkorak sebelah kanan. Hmm, pusing yang tak tertahankan.
Maka aku pun beranjak bangkit dengan malas. Kulirik jam dan kulepaskan napas naga penuh beban, hah, sudah hampir zuhur saja!
Maka aku pun membuka bajuku yang kusut bekas tidur, tapi bukannya bergegas ke kamar mandi malah kusandarkan punggungku di dinding. Aku terduduk lesu. Kuambil iPad yang tergeletak di sisiku dan kubaca beberapa notifikasi yang tidak penting dari facebook. Si anu mengirim pesan, si dia me-like status, si itu memposting di wall. Notifikasi ku-delete dan iPad kuempaskan begitu saja.
Pikiranku beberapa saat melayang tentang tidur panjang yang telah kulakukan setengah hari tadi, aku tidur pukul sembilan malam dan baru terbangun pukul setengah sepuluh. Tidak ada yang kuingat. Oh, ada. Aku ingat aku bangun pukul enam dan meminjam Charger Mas Budi karena BlackBerry-ku low-bat.
Masih setengah telanjang, aku berjalan gontai ke luar ruangan. Hendak mengambil handuk yang kugantung di jemuran depan. Begitu kubuka pintu, kulihat seonggok koran di halaman teras. Alih-alih mengambil handuk merahku, aku meraih onggokan koran tersebut dan menaruhnya di meja dekat pintu. Sesaat aku lupa tentang handuk dan mandi, aku malah sibuk membolak-balik halaman The Jakarta Post dan membaca artikel tentang kediaman penulis favoritku, Ayu Utami. Hmm, what a nice house indeed!
Selesai membaca artikel tersebut, aku kembali teringat bahwa separuh tubuhku yang telanjang sudah terasa lengket oleh keringat tadi malam. Aku butuh mandi. I’m getting smelly….yaiks!
Aku pun mengambil handuk merah yang tergantung di kayu jemuran di langit-langit teras. Kemudian aku kembali ke dalam dan bergegas menuju kamar mandi.
Tersiram air yang dingin, kepalaku yang tadinya serasa berbenjol sebesar tinju, kini makin ringan. Ada kesegaran yang menyusup melalui celah-celah kulit ari kepalaku. Tengkorakku seperti dehidrasi akut dan gelagapan menerima sejuknya siraman air bergayung-gayung. Kepalaku semakin ringan, aku menjadi segar.
Selesai mandi baru kusadari bahwa perutku agak perih karena sejak semalam belum makan. Maka aku pun mencari kaos untuk kugunakan dan menuju parking lot di halaman depan. Hmm, tak banyak pilihan menu di hari Minggu siang … di pikiranku hanya nasi padang, bakso dan warung makan bude saja yang berputar-putar tak karuan. Dan dari semua menu yang ada aku lebih memilih bude sebagai tempat pelepas rasa laparku. Kemudian aku melajukan sepeda motorku ke warung makan bude di Perum Pemda Jatiasih.
Hmm, tak ada menu spesial hari ini. Hanya ikan kembung yang dilumuri sambal dan sayur krecek khas Jogja. Bagusnya perutku tak pernah menolak jenis makanan apapun, aku tak perlu kuatir dengan menu yang seadanya. Perutku cukup kebal walaupun hanya makan nasi dan garam.
Sambil menyantap hidangan makan siangku, BBM tak henti-hentinya berbunyi. Chatting dengan Diba, salah seorang siswaku, yang katanya senasib seperjuangan dalam soal cinta. hahaha…
Rumah makan Bude terletak persis di pinggir jalan, walaupun bukan jalan besar, namun kendaraan yang lalu lalang tak pelak mengirim debu ke arahku. Kalau mendengar kata outdoor dan kita berpikir tentang sesuatu yang menyegarkan dan natural, maka tidak di sini. Selain debu, banyak pula lalat dan serangga berlalu lalang di sekitar ku. Tapi tentu saja hal tersebut tak merusak selera makanku barang sedikit pun.
Sampai tiba-tiba sesuatu hinggap di pelipis kiriku, kupikir itu seekor nyamuk, maka…plak!
Ku tepuk pelipisku agak keras dan aku merasakan sesuatu di ujung jemariku. Nah, kan. Kena deh nyamuknya!
Aku menepisnya ke atas meja dan ingin kusaksikan korban kekerasanku barusan. Tapi begitu serangga tersebut jatuh di atas meja, aku baru sadar kalau sesuatu tadi agak terlalu besar untuk ukuran seekor nyamuk. Dan mataku sedikit membelalak melihat seekor laba-laba bergerak-gerak di atas meja.
Sial!
Aku meraba pelipisku dan kudapati sebuah bentol akibat gigitan laba-laba tadi. Kau tau apa yang ada di benakku? I will become a spiderman!!
Agak gila memang. Tapi aku memang benar-benar menghentikan makanku, menghentikan chattingku, dan menghentikan nafasku, aku berimajinasi. Saat itu juga pikiranku melayang entah kemana.
Sambil melihat kaki-kaki arachnid yang bergerak-gerak di atas meja, aku melampaui kesadaranku dan menjelma menjadi makhluk superhero seperti cerita di TV. Iritasi di pelipisku akibat gigitan laba-laba yang bahkan besarnya tak sampai seujung jari kelingkingku, justru membuatku berpikir kalau tubuhku tengah bereaksi terhadap semacam enzim atau racun yang berasal dari laba-laba tersebut. Sebentar lagi akan ada fase metaformosis dalam tubuhku, aku akan merasakan lengket di sekujur telapak tangan dan kakiku, dan akan ada sulur warna putih yang keluar dari tanganku. Aku akan memiliki kekuatan dua sampai sepuluh kali lipat manusia normal, dan miopi di mataku akan hilang segera. Aku merasa tampan seketika, merasa wajahku semisal Tobey Maguire si pemeran manusia laba-laba. Maka aku akan memulai petualanganku sejak hari ini sebagai manusia yang berbeda, manusia super yang tak terkalahkan. I’m the spiderman!!
Tapi itu hanya berlangsung dua menit. Maksudku, imajinasi panjang tersebut ternyata hanya membutuhkan waktu dua menit sebelum akhirnya lenyap dan menghadirkan tawa di bibirku. Aku gila!
Neuron otakku terlalu cepat menampar kegalauan di pikiranku dan menarikku kembali ke dunia nyata. Hello, the spider is dead, and you’re still going to be normal…The spider attack was really happened but the some super-hero-thing is just a silly thinking.
Kulihat laba-laba tersebut sudah kaku dan mati, maka kulanjutkan makanku dan kulanjutkan chattingku. Imajinasi tadi hanya hal norak saja menurutku. Kurasa ini semua adalah efek dari ‘perasaan’ ada benjolan di tengkorak kananku.

Cinta.
Bullshit!!
Yes, Cinta is a bullshit!!
You know, that many people marry their lover and end up with divorce… So where’s their love? Yes, their love have become a bullshit!
I don’t wanna be a sceptic person about love, but indeed, I’d never found the pure love-but my God’s love off course.
Okay, I’ll tell you. This damn story began with my unhappy family in Depok. Every single week, yes, every single week I always received a message from my sister that told me about how messy my hometown. It was not about the environment or about the neighborhood, it was about my family. My damn family, my bad family, my…oh..my…
I don’t know what should I say about them, especially bout my damn father….I’m getting tired of this conditions… you know, everyone wanna have a warm, happy, and convenient family…. I don’t have that such of thing… I haven’t ever had them.
Maybe this is the worst destiny ever, yes, having an unhappy family is the worst…

Lebih dari dua kali. Ya, sudah lebih dari dua kali komputer di kantorku direparasi. The problem is really simple, we all don’t know the problem, seriously.
Dimulai dari operating system yang hang, saat sedang digunakan untuk bekerja tiba-tiba kursor berhenti menerima respon. Kami orang-orang di kantor berusaha menghadapinya dengan tenang, apalagi saat muncul tulisan MBR ERROR! —Honestly, I don’t really know what the meaning of that message…desperate….
Tapi kami tetap menghadapinya dengan tabah.
Aku menelepon sahabatku yang paling baik, Nanang namanya. Boleh dibilang dialah dukun perihal komputer yang ngadat. Aku sih tidak tahu apa title terakhir pendidikannya, mungkin ada sedikit embel-embel Dr.K (Dokter Komputer — Maksa!). Tapi yang pasti, pengetahuan dan pengalamannya soal assembly and trouble and error … Dia tahu persis. Aku tahu karena memang dia selalu bilang dia tahu.
Nanang berhasil menyembuhkan penyakit komputer di kantor, malamnya diantar selepas dia bekerja sebagai marketing sebuah produk obat-obatan. Aku menyambutnya dengan sumringah. Bagaimana tidak, ada banyak data penting yang tersimpan di hard drive komputer dan belum diback-up. Komputer booting dan log in dengan sempurna, satu jam kemudian masih tampak baik-baik saja sehingga akhirnya Nanang pulang ke rumahnya.
Esok harinya, entah mengapa muncul lagi pesan yang sama, komputer tidak dapat masuk ke dalam operating system dan menampilkan tulisan MBR ERROR. Rasanya aku mulai muak dengan kata ini. Dan harus sedikit kutahan saat ingin menyebut embel-embel Dr.K pada Nanang. Hmm, meskipun tak sepenuhnya dia yang bertanggung jawab.
Aku menanti sebuah jawaban yang sangat masuk akal dan dapat diterima oleh otakku. Logikaku sederhana, kuharap Nanang memberikan penjelasan yang tidak membuat keningku berlipat tujuh. Namun apa yang dia katakan padaku nyaris membuatku gugup, aku memahaminya, ya, sangat memahaminya, namun bagaimana aku harus menjelaskannya pada pihak kantor agar biaya reparasi komputer bisa cair dan berita acara tertulis dengan mulus.
Begini, semula kesalahan terdeteksi ada pada Hard Drive yang kemungkinan terkena penyakit berbahaya bernama bad-sector dimana sebagian dari sector on the hard drive that cannot be used due to permanent damage…see, permanent damage….sebuah kemungkinan yang suram.
Kemungkinan lain adalah adanya kesalahan penggunaan daya, dimana kekuatan power supply yang tidak memadai dipaksakan mengoperasikan seluruh komponen yang ada di dalam CPU, termasuk fan dengan jumlah yang banyak.
Kemungkinan terakhir yang paling berat kuterima. You know, we live in Indonesia, sebuah negara dimana kualitas tegangan listriknya tidak stabil di banyak daerah, dan sialnya di daerahku termasuk. Buruknya kualitas tegangan listrik (unstable) menjadikan kinerja power supply tidak semestinya dan berakibat pada kerusakan pada komponen keras (hardware) lainnya di dalam CPU.
See, bukan karena alasan tegangan yang tidak stabil yang membuatku berat, namun how to explain this condition to the office administrator bahwa kondisi seperti ini tidak spontan, tidak serta merta terjadi begitu saja, tidak dengan sim salabim ala putri Nirmala. This condition happen due to the unstable electricity in a long period. Yeah, we know that this computer has been used since two years ago. And unluckily, kasus ini terjadi saat aku ada di kantor ini.
Hm, semua mata boleh melirik ke arahku karena aku yang menggunakan komputer ini dengan porsi paling besar. But, please. Benda sial ini punya usia….tolong terima dia sebagai benda yang memang akan berkurang nilai kegunaannya. Oh, sulit sekali rasanya menerima bahwa kau berada di posisi tak beralibi dan kaulah satu-satunya orang yang paling berpeluang menyebabkan sebuah malapetaka terjadi.
Komputer rusak di kantorku bisa jadi malapetaka.
Then, Nanang took the computer again and tried to fix it. After three days, yes, three days, Bro!! He said that it was fixed. Dia mengantar komputer tersebut hampir tengah malam dan aku diminta mencobanya dulu, hmm, untuk memastikan bahwa that damn computer was really really fixed. Okay, Aku pun menggunakannya untuk bermain game Wolverine dan menginstall The Sims 3. Semua memang oke-oke saja, sangat oke dan sangat mulus…
Aku boleh bernafas lega.
Nanang kembali ke rumahnya dan komputer tetap kunyalakan sampai pukul tiga dini hari, ini untuk mengetes apakah keadaannya benar-benar tak bermasalah. Karena tampak sangat baik-baik saja sampai pukul tiga, so aku pun mematikannya dan pergi tidur. Yes, I went bed at three am because of that computer…hiks… ini memilukan.
Paginya, kembali komputer tersebut dinyalakan dan kami berhasil menggunakannya untuk mengeprint beberapa file dokumen. Kami semua pun bersorak dalam hati dan menghela nafas lega setelah sekian lama tidak bertemu dengan komputer tersebut. Bukan karena rindu tentu saja, tapi karena kami harus menggunakannya membuat report dan berbagai macam kegiatan administrasi lainnya.
Tunggu, tunggu. Jangan senang dulu, sepertinya Tuhan tengah menguji kami. Komputer masih dalam kondisi menyala dan kami tidak menggunakannya, dan tiba-tiba….The Blue Screen appeared….Damn!!
Inilah alasan utamaku membenci PC Windows…. tapi aku tetap mencintainya juga karena banyak developer game yang membuat game dalam versi ini (sialnya). And you can guess what happen after the appearing of Blue Screen….yeah, it should be reinstall again (The OS)….
Aaaaarrrrghh….!!!
Is it too over? okay, then. Nang, just fix it! I don’t care about the fee, and I don’t care about your title, just make the computer “ALIVE” again.
I think we should consider to buy the new one with the new OPERATIONG SYSTEM….
I didn’t say about Machintos but I do love that OS than that damn Windows….
Galau adalah saat kau ingin pipis tapi tidak ada satupun toilet yang bisa digunakan. Pilihanmu hanya dua, terpaksa nekat mengambil tempat di semak belukar atau menahannya hingga menjadi batu ginjal. Rasa galaupun sampai ke akar rambut di kepala. Kau pun hanya bisa menggigit bibir menyesali keberadaanmu di tempat yang tidak ada toiletnya sama sekali, atau menyesali keadaanmu yang terlalu mudah ingin pipis. That’s galau…
Dan satu-satunya cara untuk menghindarinya kurasa sudah ada dalam otak bawah sadarmu. Carilah…
——
Bisa juga galau adalah saat sisi emosional dalam dirimu merajai logika berpikirmu. Emosimu mematikan logika otakmu sehingga rasa sentimentil yang tumbuh menarik-narik kesadaranmu. Tanpa sadar, kamu akan menangis, meraung, meratap, menghiba pada sesuatu yang ‘sesungguhnya’ bisa dihadapi dengan logika tenang.
Cara menghindarinya mungkin hanya satu, bunuh emosimu. Bunuh jiwamu. Hadapi dengan pikiran jernih dan tidak mencampurnya dengan air mata. Apapun itu.
——-
Btw, thank you for asking me….hope you enjoy my answer… :)