Raka Tells Stories

Everyone has stories

0 notes

Imajinasi Tingkat Dewa (Spider Attack!!)

Bangun tidur pagi ini kepalaku rasanya berat dan tidak enak.  Seperti ada benjol sebesar tinju di tengkorak sebelah kanan. Hmm, pusing yang tak tertahankan.

Maka aku pun beranjak bangkit dengan malas. Kulirik jam dan kulepaskan napas naga penuh beban, hah, sudah hampir zuhur saja!

Maka aku pun membuka bajuku yang kusut bekas tidur, tapi bukannya bergegas ke kamar mandi malah kusandarkan punggungku di dinding.  Aku terduduk lesu.  Kuambil iPad yang tergeletak di sisiku dan kubaca beberapa notifikasi yang tidak penting dari facebook.  Si anu mengirim pesan, si dia me-like status, si itu memposting di wall. Notifikasi ku-delete dan iPad kuempaskan begitu saja.

Pikiranku beberapa saat melayang tentang tidur panjang yang telah kulakukan setengah hari tadi, aku tidur pukul sembilan malam dan baru terbangun pukul setengah sepuluh.  Tidak ada yang kuingat.  Oh, ada. Aku ingat aku bangun pukul enam dan meminjam Charger Mas Budi karena BlackBerry-ku low-bat.

Masih setengah telanjang, aku berjalan gontai ke luar ruangan.  Hendak mengambil handuk yang kugantung di jemuran depan.  Begitu kubuka pintu, kulihat seonggok koran di halaman teras.  Alih-alih mengambil handuk merahku, aku meraih onggokan koran tersebut dan menaruhnya di meja dekat pintu.  Sesaat aku lupa tentang handuk dan mandi, aku malah sibuk membolak-balik halaman The Jakarta Post dan membaca artikel tentang kediaman penulis favoritku, Ayu Utami. Hmm, what a nice house indeed!

Selesai membaca artikel tersebut, aku kembali teringat bahwa separuh tubuhku yang telanjang sudah terasa lengket oleh keringat tadi malam.  Aku butuh mandi.  I’m getting smelly….yaiks!

Aku pun mengambil handuk merah yang tergantung di kayu jemuran di langit-langit teras.  Kemudian aku kembali ke dalam dan bergegas menuju kamar mandi.

Tersiram air yang dingin, kepalaku yang tadinya serasa berbenjol sebesar tinju, kini makin ringan.  Ada kesegaran yang menyusup melalui celah-celah kulit ari kepalaku.  Tengkorakku seperti dehidrasi akut dan gelagapan menerima sejuknya siraman air bergayung-gayung.  Kepalaku semakin ringan, aku menjadi segar.

Selesai mandi baru kusadari bahwa perutku agak perih karena sejak semalam belum makan.  Maka aku pun mencari kaos untuk kugunakan dan menuju parking lot di halaman depan.  Hmm, tak banyak pilihan menu di hari Minggu siang … di pikiranku hanya nasi padang, bakso dan warung makan bude saja yang berputar-putar tak karuan.  Dan dari semua menu yang ada aku lebih memilih bude sebagai tempat pelepas rasa laparku.  Kemudian aku melajukan sepeda motorku ke warung makan bude di Perum Pemda Jatiasih.

Hmm, tak ada menu spesial hari ini.  Hanya ikan kembung yang dilumuri sambal dan sayur krecek khas Jogja.  Bagusnya perutku tak pernah menolak jenis makanan apapun, aku tak perlu kuatir dengan menu yang seadanya. Perutku cukup kebal walaupun hanya makan nasi dan garam.

Sambil menyantap hidangan makan siangku, BBM tak henti-hentinya berbunyi.  Chatting dengan Diba, salah seorang siswaku, yang katanya senasib seperjuangan dalam soal cinta. hahaha…

Rumah makan Bude terletak persis di pinggir jalan, walaupun bukan jalan besar, namun kendaraan yang lalu lalang tak pelak mengirim debu ke arahku. Kalau mendengar kata outdoor dan kita berpikir tentang sesuatu yang menyegarkan dan natural, maka tidak di sini.  Selain debu, banyak pula lalat dan serangga berlalu lalang di sekitar ku.  Tapi tentu saja hal tersebut tak merusak selera makanku barang sedikit pun.

Sampai tiba-tiba sesuatu hinggap di pelipis kiriku, kupikir itu seekor nyamuk, maka…plak!

Ku tepuk pelipisku agak keras dan aku merasakan sesuatu di ujung jemariku.  Nah, kan.  Kena deh nyamuknya!

Aku menepisnya ke atas meja dan ingin kusaksikan korban kekerasanku barusan.  Tapi begitu serangga tersebut jatuh di atas meja, aku baru sadar kalau sesuatu tadi agak terlalu besar untuk ukuran seekor nyamuk.  Dan mataku sedikit membelalak melihat seekor laba-laba bergerak-gerak di atas meja.

Sial! 

Aku meraba pelipisku dan kudapati sebuah bentol akibat gigitan laba-laba tadi.  Kau tau apa yang ada di benakku?  I will become a spiderman!!

Agak gila memang.  Tapi aku memang benar-benar menghentikan makanku, menghentikan chattingku, dan menghentikan nafasku, aku berimajinasi.  Saat itu juga pikiranku melayang entah kemana.   

Sambil melihat kaki-kaki arachnid yang bergerak-gerak di atas meja, aku melampaui kesadaranku dan menjelma menjadi makhluk superhero seperti cerita di TV.  Iritasi di pelipisku akibat gigitan laba-laba yang bahkan besarnya tak sampai seujung jari kelingkingku, justru membuatku berpikir kalau tubuhku tengah bereaksi terhadap semacam enzim atau racun yang berasal dari laba-laba tersebut.  Sebentar lagi akan ada fase metaformosis dalam tubuhku, aku akan merasakan lengket di sekujur telapak tangan dan kakiku, dan akan ada sulur warna putih yang keluar dari tanganku.  Aku akan memiliki kekuatan dua sampai sepuluh kali lipat manusia normal, dan miopi di mataku akan hilang segera.  Aku merasa tampan seketika, merasa wajahku semisal Tobey Maguire si pemeran manusia laba-laba.  Maka aku akan memulai petualanganku sejak hari ini sebagai manusia yang berbeda, manusia super yang tak terkalahkan.  I’m the spiderman!!

Tapi itu hanya berlangsung dua menit.  Maksudku, imajinasi panjang tersebut ternyata hanya membutuhkan waktu dua menit sebelum akhirnya lenyap dan menghadirkan tawa di bibirku.  Aku gila!

Neuron otakku terlalu cepat menampar kegalauan di pikiranku dan menarikku kembali ke dunia nyata. Hello, the spider is dead, and you’re still going to be normal…The spider attack was really happened but the some super-hero-thing is just a silly thinking.

Kulihat laba-laba tersebut sudah kaku dan mati, maka kulanjutkan makanku dan kulanjutkan chattingku.  Imajinasi tadi hanya hal norak saja menurutku.  Kurasa ini semua adalah efek dari ‘perasaan’ ada benjolan di tengkorak kananku.